Artikel

DILEMA WANITA DALAM POSISI KEPEMIMPINAN

BIROKRASI PEMERINTAHAN

Drs. Abd. Hafid Amirullah, M.Pd

Dosen FIS UNM

Abstrak: wanita memiliki kecerdasan dan keterampilan memimpin sama dengan yang dimiliki oleh kaum pria, karena itu tergantung apakah ada diantara wanita yang memenuhi syarat tentu mempunvai peluang untuk itu. Namun keterlibatan wanita pada tingkat kepemimpinan dalam birokrasi pemerintahan masih sangat kurang dari berkisar 15.5%. Dalam kriteria yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin, juga telah dimiliki oleh wanita yaitu tiga macam keterampilan yaitu keterampilan konseptual, keterampilan teknis dan keterampilan manusiawi. Dan dalam hal performance wanita pemimpin ternyata cukup demokratis. Mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengangkatan wanita dalam jabatan adalah pengetahuan kepemimpinan, pendidikan, banyaknya keluarga, status kawin dan pengalaman kerja, namun faktor yang paling besar pengaruhnya adalah faktor pendidikan dan pengalaman kerja. Di samping itu pula persepsi pria turut berpengaruh terhadap penempatan wanita pada jabatan kepemimpinan.

Kata Kunci : Wanita dan Birokrasi Pemerintahan.

  1. I. PENDAHULUAN

Pada ilmuwan yang menekuni masalah-masalah kepemimpnan telah melakukan banyak penelitian tentang berbagai segi kepemimpinan. Berbagai hasil penelitian tersebut telah memungkinkan masyakarat modern memiliki berbagai acuan ilmiah yang secara teoritikal memberikan gambaran tentang betapa pentingnya kepemimpinan yang efektif dalam kehidupan organisasional, baik di bidang kenegaraan, di bidang keniagaan, di bidang politik, bahkan juga di bidang keagamaan dan di bidang organisasi-organsisasi sosial.

Oleh karena kepemimpinan menyentuh berbagai segi kehidupan manusia, seperti cara hidup kesempatan berkarya, berttangga, bermasyarkat dan bahkan bernegara, kiranya usaha sadar untuk semakin mendalami berbagai segi kepemimpinan yang efektif itu perlu dilakukan dan bahkan ditingkatkan terus-menerus oleh para ilmuawan yang menekuni dan menggandrunginya dengan tanpa henti-hentinya mengumpulkan data empiris dalam usaha akumulasi teori-teori tentang kepemimpinan.

Masalah dan peranan wanita sering menjadi pembicaraan hangat pada pertemuan-pertemuan baik pertemuam resmi maupun yang sifatnya informal, terutama yang terkait dengan bidang pemerintahan. Dalam pertemuan yang dimaksud biasanya lahir suatu wacana yang mengarah kepada tuntutan perubahan pola pikir dari policy maker instansi pemerintah agar memberikan kesempatan yang lebih besar terhadap wanita meningkatkan kariernya, dan perlunya perubahan persepsi kaum pria dan merekomendasikan kepada mereka (wanita), yang duduk dalam jabatan birokrasi dapat menerapkan prinsip-prinsip dan sifat-sifat kepemimpinan yang elegan, efesien dan efektif.

Amandemen kedua Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 D ayat 2 dan 3 berbunyi, Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja. Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan, ini berarti bahwa wanita jugs mendapatkan kesempatan untuk dapat berperan langsung dalam birokrasi mulai dari tingkat yang paling rendah sampai ketingkat puncak sekalipun.

II. MATERI PEMBAHASAN

  1. 1. Keberhasilan Pemimpin

Keberhasilan seseorang memimpin satu organisasi dapat merupakan modal penting baginya untuk menjadi pimpinan yang efektif pada organisasi yang lain. Keberha­silan sebagai modal antara lain berarti bahwa pemimpin yang ber­sangkutan perlu terus-menerus memupuk dan mengembangkan modal yang telah dimilikinya itu. Salah satu langkah penting yang dapat dan harus diambilnya ialah mempelajari situasi baru yang dihadapinya dan menyesuaikan teknik, perilaku dan gaya kepe­mimpinannya dengan situasi nyata yang dihadapinya. Sikap yang perlu dimiliki adalah yang mengatakan bahwa setiap organisasi merupakan satuan kerja yang khan sifatnya.

Sangat menarik untuk memperhatikan sikap seseorang yang baru saja ditempatkan pada posisi kepemimpinan yang baru. Jika seseorang mendapat tugas baru, pernyataan pertama yang dibuat­nya biasanya menyangkut keinginannya untuk tidak melakukan penilaian apa-apa mengenai organisasi yang akan dipimpinnya dan perlunya yang bersangkutan mempelajari situasi melon terlebih dahulu. Jika seseorang yang baru saja ditempatkan pada posisi kepemimpinan serta merta membuat pernyataan akan berbuat ini dan itu, tidak mustahil orang yang bersangkutan akan menghadapi kesulitan, paling tidak meralat pernyataan yang per­nah dibuatnya.

Gaya kepemimpinan seseorang sangat bersifat situasional. Dalam praktek pandangan ini berarti bahwa tidak ada seorang pimpinan yang sangat konsisten menggunakan satu gaya kepemimpinan tertentu terlepas dari situasi yang dihadapinya. Artinya, efektivitas kepemimpinan seseorang sangat tergantung pada kemampuannya “membaca” situasi yang dihadapinya dan menyesuaikan gayanya dengan situasi tersebut sedemikan rupa sehingga ia efektif menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinannya.

  1. 2. Fungsi Kepemimpinan

Perananan para pejabat pemimpin dalam suatu organisasi sangat sentral dalam usaha pencapaian tujuan dan berbagai sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Kemampuan mengambil keputusan dewasa ini pada umumnya diterima sebagai inti kepemimpinan. Memang penelitian dari banyak ilmuwan dan pengalaman dari banyak praktisi menunjukkan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang pada akhirnya dinilai dengan menggunakan kemampuan mengambil keputusan sebagai kriteria utamanya. Dalam hubungan ini perlu ditekankan bahwa yang dimaksud dengan kemampuan mengambil keputusan tidak terutama diukur dengan ukuran kuantitatif, dalarn arti jumlah ke­putusan yang diambil. Yang digunakan adalah jumlah keputusan yang diambil yang bersifat praktis, realistik dan dapat dilaksanakan serta memperlancar usaha pencapaian tujuan organisasi.

  1. 3. Keterlibatan Wanita Dalam Kepemimpinan Birokrasi

Berhasilnya Pembangunan Nasional banyak ditentukan oleh peranan birokratnya termasuk birokrat wanita baik is sebagai pemikir, perencana, pengambil keputusan, pelaksana maupun sebagai pengawas pembangunan, namun demikian populasi birokrat wanita yang tampil dan mendapatkan kesempatan untuk menduduki jabatan pemimpin dalam birokrasi masih sangat kurang terutama dalam posisi management eksekutif puncak, salah satu penyebabnya adalah pengaruh perilaku birokrasi yang berlaku pada Instansi Pemerintahan dan kelihatannya fenomena ini lebih menguat di Instansi Pemerintahan Daerah yang masih kental dengan nilai-nilai budaya dan kepercayaan yang mendikotomikan wanita dengan pria, pads hal  kepemimpinan hanyalah mempunyai arti apabila kita menempatkan (mengkhususkan) artian itu untuk maksud dan dalam situasi apakah yang dapat diharapkan dari kepemimpinannya itu. Artinya dalam suatu situasi dan dalam suatu masyarakat apakah yang dapat diharapkan dari pemimpin itu ” Drs. Soewamo Handayaningrat (Pengantar Studi 11mu Administrasi Dan Manajemen 1988 : 69 ).

Birokrat wanita dalam melaksanakan perannya masih menghadapi beberapa keterbatasan yang disebabkan oleh beberapa hal seperti keterbatasan pendidikan karena posisinya sebagai ibu rumah tangga, clan belum optimalnya prinsip mitra sejajar di sebagian lingkungan birokrasii pemerintahan khususnya pads tingkat pemimpin. Sebenarnya birokrasii adalah suatu usaha untuk melaksanakan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah agar dijalankan clan dipatuhi oleh masyarakat, sebagai usaha untuk mengatur ketertiban dalam bidang administrasi pemerintah.

Dalam suatu karyanya Hamka mengatakan bahwa kaum laki­-laki dan wanita beriman, sama saja tugasnya dalam amar ma,ruf nahyi munkar (menegakkan kebenaran dan keadilan) berarti sangat relevan dengan teori kepemimpinan birokrasi (bureaucratic leadership) yaitu “sebagai kepemimpinan yang tunduk clan tact terhadap peraturan­-peraturan yang telah ditentukan oleh pemerintah” Drs.Soewamo H. (1988 : 70 ).

  1. 4. Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Pengangkatan Wanita Dalam Kepemimpinan Birokrasi.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pengangkatan wanita dalam suatu jabatan tertentu menunjukkan bahwa, pengetahuan kepemimpinan, pendidikan, banyaknya keluarga status kawin dan pengalaman kerja, secara bersama-sama mempunyai hubungan yang signifikan dengan pengangkatan wanita dalam kepemimpinan birokrasi.

Berdasarkan hasil penelitian Ny.Hj. Aumalasari (jurnal Humanis vol.3,2004:91), menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang pejabat semakin tinggi pula jabatan yang didudukinya dan semakin lama pengalaman kerja semakin tinggi pula eselon yang dijabatnya, meskipun hal ini sifatnya kasusistik artinya faktor pengalaman kerja menjadi pertimbangan untuk menempatkan seseorang mendudukii jabatan struktural (memenuhi persyaratan kepangkatan dan kriteria lainnya), namun untuk wanita terkadang masih dipengaruhi oleh adanya persepsi yang menganggap bahwa wanita kurang cocok dengan jabatan tertentu seperti pada jabatan yang menuntut untuk senantiasa keluar rumah dimalam hari.

Bila ditinjau dari segi performance, wanita cukup kompetitif dalam hal demokratis terutama dalam memimpin karena wanita cenderung sangat berhati-hati dan tidak ceroboh dalam mengambil keputusan serta senantiasa menjaga human relations dalam organisasi sehingga dapat menciptakan team work yang harmonis. Hal ini sejalan dengan pendapat “dalam proses penggerakan bawahan, selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk termulia didunia Prof. Dr.Sondang P. Siagian, Filsafat Administrasi, 1996 : 44 ).

Human Relations merupakan inti dari leadership (pengambilan keputusan) maka sewajarnya bila wanita lebih kapabel dalam kepemimpinan birokrasi selama ini dapat menciptakan hubungan harmonis / good will diantara anggota organisasi demi tercapainya tujuan yang diharapkan sebelumnya.

Bagi wanita yang telah bersuami/berkeluarga akan menjadi tantangan besar jika tidak mendapatkan dukungan moral dari pihak swami untuk diangkat dalam suatu jabatan tertentu hanya karena ikut hanyut dalam persepsi kaum pria yang takut kehilangan atau berkurangnya kasih sayang isteri kepada keluarganya akibat bertumpuknya tugas kantor yang harus dikerjakan sang isteri.

Dari pembahasan singkat tentang wanita dalam kepemimpinan birokrasi, terungkap sedikit dari sekian banyak fenomena yang mempengaruhi eksistensi wanita dalam administrasi pemerintahan khususnya dalam kepemimpinan birokraasi. Wanita memiliki kecerdasan dan keterampilan memimpin setara dengan yang dimiliki oleh kaum pria tergantung persyaratan atau kriteria yang dituntut untuk jabatan yang bersangkutan.

DAFTAR PUSTAKA

Alex.S.Netisemito, 1996. Manajemen Personalia. Jakarta. Ghalia Indonesia.

Komaruddin, drs. 1981. Manajemen Kantor. Sinar Baru. Bandung.

Philip Quarles Van Ufford. 1988. Kepemimpinan Lokal dan Implementasi Program. PT. Gramedia, Jakarta.

Siagian, S.P, Prof, dr. 1997.Filsafat Administrasi. Gunung Agung, Jakarta.

­__________________. 2003. Teori dan Praktek Kepemimpinan, PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Sudarman Danim, Prof. dr. 2004. Motivasi Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok. Rineka Cipta, Jakarta.

Hoogendoon, 1989. Memberikan Pimpinan dengan Kerjasama, Universitas Indonesia, Jakarta.

Wirawan, 2003. Kapita Selekta teori Kepemimpinan. Yayasan Bangun Indonesia, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

M E N U

Admin

Kalender

Agustus 2014
S S R K J S M
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Kategori

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: